pura uluwatu

Pengelola pura Uluwatu

pura Uluwatu

pura Uluwatu

Kiat sukses pengelola Pura Uluwatu dan Tari Kecak Uluwatu dalam memenangkan persaingan sebagai daerah tujuan wisata di Bali.

Pura Uluwatu sebagai tempat tujuan wisata internasional telah menunjukan eksistensinya dalam persaingan sebagai dareah tujuan wisata yang ada di Bali, Indonesia. Bali yang memiliki ratusan tempat yang dikembangkan sebagai tempat tujuan wisata dan objek wisata, memberikan banyak pilihan bagi para wisatawan untuk mengunjungi salah satunya, banyaknya tempat tujuan wisata dan objek wisata yang ada di Bali membuat beberapa tempat wisata yang sebelumnya sengaja dikembangkan berlomba-lomba untuk menggaet para wisatawan untuk datang berkunjung.

Provinsi Bali yang terbagi menjadi 8 Kabupaten dan kota ini menawarkan nuansa dan pengalaman wisata yang berbeda-beda pada setiap kabupatennya. Wilayah Bali Selatan yang dikembangkan dengan  sangat pesat telah mendominasi perkembangan pariwisata di Bali. Sedangkan daerah bagian timur yang meliputi Kabupaten Karang Asem dan Bangli tidak mau ketinggalan dan menyiapkan berbagai strategy untuk membuat terobosan baru dalam mewujudkan tempat tujuan wisata favorit. Bali bagian barat dan utara juga tidak mau ketinggalan langkah, melalui rencana pemerataan pembangungan pariwisata, pemerintah Provinsi Bali bersama dengan pemkab masing-masing juga telah menyiapkan rencana pembangunan fasilitas penunjang pariwisata untuk mendongkrak pertumbuhan kunjungan wisatawan ke bagian barat dan utara Pulau Bali.

Sebagai salah satu tempat tujuan wisata yang sangat populer di Bali, Pura Uluwatu juga dihadapkan dengan persaingan untuk merebut perhatian para wisatawan yang berkunjung ke Bali. Berbagai langkah untuk memenangkan persaingan tersebut telah dilakukan oleh Pemerintah Desa Pecatu sebagai penguasa wilayah dan Pemkab Badung dengan melakukan beberapa terobosan-terobosan dalam pembangunan infrastruktur pariwisata di sekita kawasan wisata ini. Melalui berbagai sumber anggaran, pemerintah Kabupaten Badung telah menyiapkan beragam fasilitas pendukung disekitar Pura Uluwatu, diantaranya adalah pelebaran tempat parkir yang dilakukan untuk membendung lonjakan kedatangan wisatawan pada setiap sorenya. Selain perluasan parkir pengadaan toilet umum untuk para wisatawan kemudian ditambah dibeberapa titik selain memperbaiki yang sudah ada.

Penataan kawasan oleh Pemkab Badung ini dibarengi oleh penataan lingkungan disekitar stage Tari Kecak Uluwatu dengan melakukan renovasi stage menggunakan beton dan penataan lingkungan disekitarnya. Hal ini tentunya dimaksudkan untuk memenangkan persaingan antar daerah tujuan wisata yang ada di Bali. Pengadaan dan perbaikan fasilitas pendukung pariwisata ini merupakan salah satu strategy yang dipakai untuk tetap membuat Pura Uluwatu menjadi daerah tujuan wisata yang paling ramai dikunjungi, selain langkah-langkah tersebut hadirnya beberapa kawasan wisata lain disekitar Pura Uluwatu juga memberikan pengaruh yang luar biasa bagi perkembangan pariwisata Pura Uluwatu. Berkembangnya kawasan Nusa Dua sebagai tempat wisata water sports, Jimbaran yang kemudian dikenal dengan Jimbaran Seafoodnya dan berbagai pantai yang sangat indah disekitar Pura Uluwatu juga membuat tempat wisata Pura Uluwatu selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan.

Kenaikan harga tiket Tari Kecak Uluwatu

Hanoman Kecak Dance Pura Uluwatu

Hanoman Kecak Dance Pura Uluwatu

Kenaikan harga tiket Tari Kecak Uluwatu tidak mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan ketempat tujuan wisata Pura Uluwatu.
Menurut keterangan yang berhasil dihimpun dari petugas Pos Retribusi Pura Uluwatu sebagai pihak yang menjual tiket masuk ke Pura Uluwatu dan keterangan resmi dari Bpk. I Made Leper selaku ketua Kelompok Sadar Wisata Pura Uluwatu dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan kenaikan harga tiket Tari Kecak Uluwatu tidak memberikan dampak negative terhadap angka kunjungan wisatawan yang mengunjungi Pura Uluwatu. Hal ini dilihat dari angka kunjungan wisatawan setiap harinya dari awal bulan Januari 2014 sampai dengan minggu pertama bulan Pebruary 2014 yang malah cenderung mengalami kenaikan dibandikang pada tahun sebelunya di tahun 2013. Jumlah kunjungan wisatawan di bulan Januari 2014 yang terhitung sejak tanggal 1 s/d 31 Januari 2014 mencapai angka 65.000 orang wisatawan dengan rata-rata kunjungan sebanyak 2000 orang wisatawan setiap harinya. Hal ini tentunya menjadi sebuah angin segar bagi pariwisata Bali khususnya Pura Uluwatu sebagai tempat tujuan wisata paling populer yang dimiliki oleh Bali saat ini.

Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, lonjakan kedatangan wisatawan yang mengunjungi Pura Uluwatu selalu terjadi di rentang bulan April sampai dengan bulan Agustus pada setiap tahunnya, dan biasanya angka kunjungan akan turun sangat drastis di awal tahun dari bulan Januari sampai dengan Maret. Jika memperhatikan fenomena tingkat kunjungan wisatawan yang terjadi diawal tahun 2014 ini, beberapa stakeholder pariwisata yang ada dikawasan tujuan wisata Pura Uluwatu patut menaruh harapan yang sangat besar akan kondisi pariwisata yang cenderung akan sangat stabil di Tahun 2014 ini. Adapun kenaikan tiket pertunjukan atraksi wisata Tari Kecak Uluwatu yang mengalami penyesuaian di tahun ini tidak membawa dampak negative terhadap jumlah kunjungan. Mengingat Kecak Uluwatu saat ini menjadi satu-satunya atraksi wisata yang paling dicari dan diminati oleh para wisatawan, tentunya dengan penyesuian harga tersebut tidak akan menyurutkan keinginan para wisatawan untuk mengunjungi Pura Uluwatu dan menonton Tari Kecak Uluwatu.

Hal senada disampaikan oleh Sales Manager Tari Kecak Uluwatu, Bpk. I Nyoman Sukresena SH. Yang mengatakan bahwa penyesuaian harga tiket Tari Kecak Uluwatu pada tahun 2014 ini sepertinya mendapat sambutan positive dari berbagai kalangan baik usaha perjalanan wisata yang ada di Bali dan luar Bali maupun oleh para wisatawan sendiri, dengan berbagai keungulan yang dimiliki oleh Pura Uluwatu dan Tari Kecak Uluwatu sebagai satu-satunya penyedia atraksi wisata di kawasan wisata Pura Uluwatu mampu menarik perhatian para wisatawan untuk tetap mengunjungi Pura Uluwatu, namun kemudian beliau memberikan catatan bahwa Pura Uluwatu adalah milik semua masyarakat Bali dan Indonesia jadi seharusnya berbagai komponen pariwisata yang ada untuk tetap saling mendukung dan bersinergi dalam mewujudkan pola pelayanan yang sempurna bagi para wisatawan yang datang berkunjung ke Pura Uluwatu.

Aksi kebersihan lingkungan TNI & Tari Kecak Uluwatu di Pura Uluwatu

ULUWATU

ULUWATU

Suasana pagi yang cerah di Pura Uluwatu pada minggu awal bulan Januari 2014 tiba-tiba mendadak ramai dengan kehadiran pasukan TNI dan masyarakat lainnya, hari minggu diawal tahun ini menjadi pilihan bagi segenap komponen masyarakat di Kuta Selatan untuk melakukan kegiatan kebersihan lingkungan, kegiatan yang dimotori oleh  Pasukan TNI Kodim 1611/Badung melibatkan beragam komponen masyarakat di Desa Pecatu untuk terlibat langsung dalam kegiatan untuk penyelamatan lingkungan ini. Kegiatan kebersihan lingkungan ini diselenggarakan di kawasan wisata Pura Uluwatu di Desa Pecatu Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

Segenap pasukan TNI dari Kodim 1611/Badung turun langsung dalam kegiatan ini berbaur dengan lapisan dan berbagai komponen masyarakat Desa Pecatu untuk melakukan aksi kebersihan di tempat wisata yang paling terkenal di Bali ini. Beberapa komponen masyarakat yang terlibat langsung dalam kegiatan ini diantaranya : Gabungan Pasukan TNI Kodim 1611/Badung, Polsek Kuta Selatan, Masyarakat Desa Pecatu, Kelompok Dagang Pura Uluwatu, Kelompok Sadar wisata Pura Uluwatu, kalangan PNS, pegawai Kantor Kepala Desa Pecatu, anggota Tari Kecak Uluwatu, murid Sekolah Dasar No: 3 Pecatu dan masyarakat luas lainnya.

Kegiatan ini merupakan wujud bakti TNI untuk menjaga kebersihan lingkungan dan alam Bali. Kegiatan ini sengaja dipusatkan di kawasan wisata Pura Uluwatu karena Pura Uluwatu merupakan tempat wisata yang dikunjungi oleh wisatawan internasional dan telah menjelma menjadi sebuah tempat wisata yang paling diminati oleh setiap wisatawan yang berkunjung ke Bali. Dengan volume kedatangan wisatawan yang begitu besar setiap harinya, mendorong pertumbuhan sampah yang selalu menumpuk mengakibatkan pencemaran lingkungan disekitarnya. Aksi kebersihan ini menyasar sampah-sampah plastic yang tersebar dibeberapa sudut Pura Uluwatu. Dengan melibatkan masyarkat luas diharapakan melalui kegiatan ini akan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat dan wisatawan yang berkunjung akan pentingnya menjaga lingkungan yang bersih dan sehat. Sampah-sampah plastik yang tidak mudah diurai oleh alam ini dikumpulkan dan dipisahkan dengan sampah organik lainnya.

Kegiatan yang berlangsung selama setengah hari ini dipantau langsung oleh perbekel Desa Pecatu, Bpk I Made Karyana Yadnya yang hadir sekaligus terlibat langsung dalam aksi ini. Sebagai perbekel/kepala desa Pecatu, kegiatan ini sangat mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi bahwa selain focus dengan pertahanan negara, pasukan TNI masih memiliki niat untuk melakukan aksi sosial untuk masyarakat luas. Bebrapa komponen masyarakat yang terlibat dalam aksi sosial ini tampak antusias berbaur dengan pasukan TNI untuk mengumpulkan sampah-sampah plastik yang mengotori tempat wisata yang mereka banggakan ini. Pura Uluwatu merupakan penopang ekonomi masyarakat Pecatu dan masyarakt Badung pada umumnya. Karena dengan dikembangkannya Pura Uluwatu menjadi sebuah tempat wisata yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan, Pura Uluwatu telah berhasil menyumbangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat besar setiap tahunnya.

Tips Mengunjungi Pura

Apa yang harus anda persiapkan untuk mengunjungi Pura Uluwatu?

Berikut kami akan membagi tips untuk anda semua, sehingga wisata anda ke Pura Uluwatu menjadi kenangan liburan yang tidak akan anda lupakan seumur hidup anda. Pura Uluwatu merupakan pura untuk umum dan juga salah satu dari 6 pura terbesar yang ada di Bali. Untuk berkunjung ke tempat wisata Pura Uluwatu, pengunjung akan dikenakan tiket parkir Rp. 3000 untuk kendaraan Roda Dua dan Rp. 5000 untuk kendaraan roda empat. Selain itu pengujung harus membayar tiket masuk ke objek wisata sesuai dengan table di bawah ini :

Harga Tiket Masuk Pura Uluwatu / Enterence Fee
KATEGORI  DOMESTIK OVERSEAS KETERANGAN
Dewasa  Rp. 15.000  Rp. 20.000 
  • Sudah termasuk penyewaan kain bagi yang memakai celana di atas lutut (wajib).
Anak-anak(2-10 tahun) Rp.  5.000 Rp. 10.000
Tips Mengunjungi Pura Uluwatu
  1. ­­Waktu yang paling tepat mengunjungi Pura Uluwatu adalah sore hari, karena selain cuaca yang sangt mendukung, keindahan kawasan Pura Uluwatu akan lebih mempesona anda ketika sore hari pada saat matahari terbenam/sunset.
  2. Berpakian yang sopan, anda akan mengunjungi salah satu tempat ibadah bagi umat Hindu di Bali, berpakianlah yang sopan ketika memasuki kawasan wisata ini.
  3. Siapkan kamera anda karena berbagai moment menarik akan anda alami selama mengunjungi tempat wisata ini.
  4. Jangan membawa barang/perhiasan yang berlebihan karena akan menarik perhatian monyet.
  5. Jangan memberi makan monyet atau berada terlalu dekat dengan monyet untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan
  6. Bagi wanita yang sedang pada periode menstruasi dilarang untuk naik ke area atas pura, melainkan hanya dapat menikmati dari area bawah sepanjang tebing atau hanya untuk menonton Tari Kecak Uluwatu.
  7. Selalu mengikuti petunjuk & himbauan yang telah ditempel di pintu masuk atau tempat pembelian tiket.
  8. Jangan membuang sampah sembarangan.
  9. Kalau anda merasa membutuhkan orang untuk mengantar anda berkeliling maka dapat menyewa seorang pemandu lokal yang dapat anda temui pada saat anda membeli tiket masuk.
  10. Menonton Tari Kecak Uluwatu adalah hal yang sangat kami rekomendasikan pada saat anda mengunjungi tempat wisata ini. Tiket terjual terpisah dengan entrence fee, tiket Kecak Uluwatu dapat dibeli secara onine dengan menghubungi kami.

Pura Uluwatu di sore hari

Mengapa wisatawan lebih memilih mengunjungi Pura Uluwatu di sore hari?

Sesuai dengan hasil observasi yang kami lakukan dilapangan berdasarkan dengan jumlah kedatangan wisatawan yang berkunjung ke Pura Uluwatu, kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa lonjakan kedatangan wisatawan akan terjadi di waktu sore hari dalam tenggang waktu antara jam 16:00 Wita s/d jam 19:00 WITA. Jumlah wisatawan yang berkunjung pada sore hari berkisar pada angka 1.500 orang sampai dengan 2000 orang setiap harinya. Biasanya akan mengalami peningkatan pada akhir pekan maupun pada hari-hari libur nasional. Prosentase wisatawan yang mengunjungi Pura Uluwatu pada sore hari tercatat mencapai angka 65.50% dari total kunjungan wisatawan setiap harinya, sedangkan hanya 20.22% yang berkunjung di Pagi hari  dan 14.28% datang berkunjung pada siang harinya.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang prosentase kedatangan wisatawan ke Pura Uluwatu menurut jam kunjungan dapat dilihat dalam diagram di bawah ini :

Pura Uluwatu di sore hari

Pura Uluwatu di sore hari

Memperhatikan diagram di atas tentunya dapat ditarik kesimpulan bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke Pura Uluwatu akan membeludak pagi waktu sore hari antara jam 16:00 s/d 19:00 WITA, hal ini tentunya disebabkan oleh partisipasi para agen perjalanan dan guide maupun sopir freelance yang membuat paket tour ke uluwatu pada jam-jam tersebut. Selain suasana yang akan lebih sejuk karena panas matahari sudah akan mulai berkurang, pada jam-jam tersebut juga akan mendapat banyak keuntungan-keuntungan lain diantaranya adalah pemandangan sekitar Pura uluwatu yang akan lebih indah diwaktu sore hari, sunset , dan tentunya alasan yang mendasar adalah wisatawan ingin menonton Tari Kecak Uluwatu yang sudah melegenda.

Menonton Tari Kecak Uluwatu sambil menikmati lembayung senja yang indah yang tercipta saat dimana matahari mulai terbenam dibelakang Samudera Hindia, langit memerah menciptakan suasana yang begitu sangat romantic membuat para wisatawan betah untuk berada dilokasi wisata satu ini pada sore harinya.  Penonton tidak perlu untuk beranjak dari tempat duduk mereka melainkan hanya bersiap dengan kamera anda dan tangkap semua moment yang terjadi pada jam-jam ini.

Lonjakan kedatangan wisatawan pada sore hari juga dibenarkan oleh keterangan dari pengelola Kawasan Wisata Uluwatu, disebutkan bahwa dengan diadakannya tari kecak sebagai atraksi wisata di Pura Uluwatu membuat para wisatawan lebih memilih untuk berkunjung pada sore harinya yang memungkinkan wisatawan untuk menikmati keindahan panorama disekeliling Pura Uluwatu sambil menonton Tari Kecak Uluwatu dan tentunya sunset yang tidak akan dilewatkan oleh para wisatawan.

Mengapa Tari Kecak Uluwatu memilih konsep panggung terbuka ?

Panggung Terbuka

Panggung Terbuka

Tempat pertunjukan Tari Kecak UIuwatu berada di dalam kawasan Pura Uluwatu, kawasan yang sangat disucikan oleh umat Hindu di Bali ini memiliki luas ± 8 Hektar yang terdiri dari hutan konservasi yang disebut dengan Alas Kekeran, Lahan Parkir dan bangunan kios pedagang seluas 1 hektar, dan area pura yang ± 1 hektar.

Kawasan Pura Uluwatu selain sebagian merupakan hutan konservasi dan lahan parkir juga dimanfaatkan sebagai tempat pengembangan atraksi wisata budaya berupa tari kecak. Pertunjukkan tari kecak yang dipentaskan di stage yang dibangun di atas lahan seluas ± 6 are tersebut mengambil tempat yang sangat strategis dengan mempertimbangkan keindahan alam sekitar latar belakang untuk mendukung suksesnya pertunjukan.

Pada tahun 1999 ketika lokasi tempat petunjukan disepakati kemudian secara gotong royong anggota Tari Kecak Uluwatu mulai merancang dan membangun stage dengan kapasitas ± 700 orang. Stage yang dibangun dengan kayu dan bambu pada awalnya dibangun dengan dana yang sangat minim dengan bantuan dari beberapa donator yang ada pada saat tersebut. Karena sumber dana yang sangat sedikit, stage Tari Kecak Uluwatu ini kemudian hanya menggunakan perlatan dan bahan seadanya, dengan memakai tiang dari kayu yang diambil disekitar rumah-rumah penduduk dan sumbangan dari para anggota, juga memanfaatkan tumbuhan pohon bamboo yang tersebar dirumah-rumah warga sekitar. Hal ini juga mengakibatkan keseluruhan dana yang terkumpul pada saat tersebut tidak bisa untuk membuat atap pelindung pada bagian panggung dan tempat duduk penonton.
Seiring dengan pertumbuhan kunjungan wisatawan yang datang ke Pura Uluwatu Bali dan secara khusus menonton Tari Kecak Uluwatu, banyak masukan dan gagasan yang mendukung konsep panggung terbuka dengan alasan bahwa pemandangan yang dihasilkan akan sangat terbuka tanpa tertutupi oleh atap dan sangat memungkinkan untuk menciptakan suasana yang menyatu dengan alam sekitar. Selain itu keberadaan gugusan bintang yang sangat indah diatas Samudera Hindia menjadi alasan lain bagi pengelola untuk membiarkan panggung pementasan tetap dibiarkan terbuka. Wisatawan yang menonton Tari Kecak Uluwatu biasanya rela untuk berlama-lama berada di stage seusai pertunjukan hanya untuk menikmati pemandangan bintang-bintang yang begitu indah dilangit yang belum tentu mereka dapat nikmati dinegara tempat mereka berasal.

Walaupun kemudian stage Tari Kecak Uluwatu direnovasi dipenghujung tahun 2013, hanya dilakukan penataan lingkungan sekitar, mengganti tempat duduk dengan beton yang lebih solid tanpa ada menambahkan atap di atasnya. Tentunya dengan konsep panggung terbuka ini selain memberikan kelebihan-kelebihan seperti yang sudah ditulis diatas, juga menyisakan dampak dan pekerjaan tambahan bagi pengelola ketika dimusim hujan. Musim hujan yang biasanya datang dipenghujung tahun kerap membuat pengelola Tari Kecak Uluwatu untuk memindahkan pementasan ke indoor stage yang berada tidak jauh dari lokasi stage utama, namun memerlukan persiapan lebih untuk dapat pentas ditempat ini.

Tiket Kecak Uluwatu

Dimanakah Tiket Tari Kecak Uluwatu bisa dibeli?

Tiket Kecak Uluwatu

Tiket Kecak Uluwatu

Sejak awal pendirian Tari Kecak Uluwatu tahun 1999 silam. Kami telah melakukan kerja sama dengan beberapa travel agent atau usaha perjalanan wisata yang ada di Bali maupun luar Bali. Beberapa usaha perjalanan wisata yang telah bekerja sama dengan kami sejak awal pendirian telah  menghasilkan jutaan customer yang mengunjungi kami setiap tahunnya. Selain melakukan kerjasama resmi dengan beberapa usaha perjalanan wisata yang ada, hadirnya sopir atau guide freelance yang belakangan banyak membanjiri industry pariwisata Bali juga memberikan keuntungan tersendiri bagi Pengelola Tari Kecak Uluwatu, karena untuk keperluan promosi kawasan dan atraksi wisata tari kecak biasanya dilakukan dengan cuma-cuma oleh para sopir maupun guide freelance tersebut.
Untuk mendapatkan tiket Tari Kecak Uluwatu selain bisa diperoleh melalui perusahan perjalanan wisata/travel agent yang sudah bekerja sama dengan kami dapat pula di beli langsung dengan pengelola Tari Kecak di Uluwatu dengan cara memesan langsung di tiket konter Tari Kecak Uluwatu yang berada kawasan wisata Pura Uluwatu. Dengan membeli langsung di loker tiket kami di Pura Uluwatu maka harga yang akan anda peroleh adalah harga publish sebesar Rp. 100.000/orang untuk dewasa, sedangkan anak-anak dikenakan setengah harga yaitu Rp. 50.000/orang. Kategori dewasa dihitung dari umur penonton yang sudah memasuki umur 10 tahun ke atas maka akan dikenakan tiket dewasa, sedangkan bagi mereka yang masih berumur dibawah 10 tahun, maka masih dikenakan tiket anak-anak dan untuk kategori umur di bawah 2 tahun tidak dikenakan tiket masuk.
Untuk menghindari harga publish yang sedikit lebih mahal biasanya calon penonton akan memanfaatkan layanan booking online yang sudah secara resmi diluncurkan oleh pengelola Tari Kecak Uluwatu mulai bulan Januari 2014 ini. Dengan layanan online booking calon penonton dapat memesan tiket Tari Kecak Uluwatu jauh-jauh hari sebelum tanggal kedatangan, hal ini sengaja disiapkan untuk memberikan kemudahan-kemudahan bagi mereka yang hendak mengunjungi Pura Uluwatu dan menonton Tari Kecak Uluwatu. Dengan online booking maka harga tiket akan jauh lebih murah dibandingkan dengan membeli tiket dilokasi ataupun ditempat lain.
Fasilitas online booking kami rekomendasikan mengingat belakangan banyak sekali agent maupun pihak-pihak lain yang mengaku sebagai pengelola Tari Kecak Uluwatu dan berusaha menjual tiket Kecak Uluwatu diluar yang sudah kami siapkan. Untuk mengantisipasi penipuan yang menggunakan nama Tari Kecak di Pura Uluwatu maka sangat kami sarankan untuk membeli Tiket Tarian Kecak Uluwatu melalui agen-agen resmi yang sudah kami tunjuk ataupun dapat dengan membeli langsung kepada kami melalui pembelian langsung di counter tiket yang sudah kami sediakan ataupu dapat memanfaatkan layanan online booking yang sudah kami siapkan. Transaksi anda akan jauh lebih aman jika menghubungi pengelola langsung untuk menhindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tari Kecak di Uluwatu

Tari Kecak di Uluwatu dalam usaha penyelamatan lingkungan

Tari Kecak di Uluwatu

Tari Kecak di Uluwatu

Bagaimanakah peran Tari Kecak di Uluwatu dalam usaha penyelamatan lingkungan dan pengelolaan sampah di Kawasan Wisata Pura Uluwatu?
Sebagai sebuah perkumpulan seni yang menggantungkan penghasilan anggotanya melalui pergelaran pertunjukkan kesenian di kawasan Pura yang ada di Uluwatu, Tari Kecak di Uluwatu memiliki komitmen untuk berperan aktif dalam mendorong anggotanya dengan melakukan kegiatan kebersihan secara rutin dikawasan ini. Selain menjaga kebersihan di areal Open Air Stage Pura Uluwatu anggota Tari Kecak di Uluwatu juga diharuskan untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar Pura di Uluwatu.

Beberapa tindakan nyata penyelamatan lingkungan dan pengelolaan sampah yang telah dilakukan dan merupakan agenda tetap Tari Kecak di Uluwatu antara lain:

1.    Melakukan kegiatan gotong royong secara rutin yang diadakan setiap sebulan sekali secara bergiliran. Kegiatan yang dilakukan setiap bulannya ini merupakan sebuah komitmen Tari Kecak di Uluwatu untuk penyelamatan lingkungan dan menjaga warisan budaya leluhur berupa Pura yang secara turun temurun diwariskan kepada masyarakat adat Desa Pecatu untuk dijaga kelestariannya. Dengan melakukan kegiatan gotong royong secara rutin setiap bulannya, Tari Kecak di Uluwatu telah berperan akftif dalam usaha penyelamatan lingkungan sekitar yang selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan.
2.    Berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong yang diadakan setiap 6 bulan sekali pada saat odalan (upacara) di areal Pura, kegiatan ini biasanya diadakan pada hari minggu 2 hari sebelum upacara berlangsung yang biasanya jatuh pada hari selasa. Dan diikuti oleh group kecak yang lainnya setelah upacara berakhir untuk melakukan kegiatan pembersihan kawasan Pura Uluwatu dari sisa-sisa sampah yang berasal dari kegiatan upacara.
3.    Berpartisipasi dalam pengadaan tempat sampah diseputar Kawasan Wisata Pura Uluwatu. Kegiatan pengadaan tempat sampah berupa tong-tong sampah yang disebar diseluruh kawasan dimaksudkan untuk mengundang partisipasi pengunjung atau wisatawan untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
4.    Pemasangan papan peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Pada titik-titik tertentu disekitar kawasan wisata Uluwatu telah dipasangi papan peringatan berupa larangan untuk membuang sampah secara sembarangan. Papan yang dibuat khusus sebagi peringatan dini kepada setiap orang yang berada di kawasan wisata Pura untuk tidak mengotori kawasan pura dengan membuang sampah pada tempat-tempat yang sudah disediakan.
5.    Membangun budaya malu membuang sampah sembarangan kepada seluruh anggota Tari Kecak di Uluwatu melalui aturan internal dimana mereka yang membuang sampah sembarangan akan dikenakan denda dan sanksi.
6.    Selalu konsisten menyelipkan pengarahan kepada seluruh anggota pada rapat-rapat anggota Tari Kecak di Uluwatu untuk senantiasa berperan aktif dalam hal penyelamatan lingkungan dengan tidak membuang sampah secara sembarangan dan mengembangkan budaya pungut sampah ketika melintas dikawasan Pura Uluwatu.

Beragam tindakan dan aksi nyata yang telah dilakukan oleh Tari Kecak di Uluwatu telah menjadi sebuah kebiasaan dan budaya yang terus dikembangkan untuk tetap berpartisipasi dalam menjaga lingkungan sekitar. Hal ini tentunya sangat sejalan dengan prioritas pembangunan Desa adat Pecatu sebagai pemerintah desa yang mewilayahi kawasan ini untuk focus di tahun 2014 ini terhadap penanggulangan dan pengelolaan sampah untuk lingkungan yang bersih dan sehat.

Komitmen Tari Kecak di Uluwatu di Tahun 2014 terhadap pengelolalan sampah juga telah dibuktikan dengan mengikutsertakan seluruh anggota dalam kegiatan gotong royong peduli sampah plastic yang dilakukan dengan menggandeng anggota Koramil setempat dan perusahaan PT. Buyer Indonesia yang merupakan perusahan farmasi di Jakarta untuk bersama-sama melakukan aksi kebersihan pada awal tahun 2014 ini.

Pura Uluwatu

Apakah wanita haid bisa memasuki areal Pura Uluwatu?

Pura Uluwatu

Pura Uluwatu

Kawasan wisata Pura Uluwatu merupakan kawasan suci yang juga dikembangkan sebagai daya tarik wisata di Bali, Pura di Uluwatu Bali merupakan salah satu dari 6 Pura Sad Khayangan di Bali, pura ini merupakan salah satu pura umum yang dipakai untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Rudra oleh karena itu Pura Uluwatu sangat disucikan oleh umat Agama Hindu di Bali.

Sebagai kawasan suci yang dikembangkan sebagai daya tarik wisata, terdapat beberapa larangan dan pantangan bagi siapa saja yang hendak mengunjungi Pura pura di Bali. Diantara larangan dan pantangan tersebut adalah larangan bagi wanita yang sedang haid untuk memasuki areal Pura Uluwatu, larangan untuk memasuki areal Pura ditujukkan kepada pengunjung wanita yang sedang haid untuk tidak naik memasuki areal Pura. Areal pura yang terbagi tiga tersebut meliputi: Area luar yang disebut jaba sisi meliputi sisi luar pura yaiti areal seputar tangga utama dan Pura Penyawang Jurit Uluwatu. Jaba sisi atau areal terluar ini dipisahkan oleh tangga dijalur utama jalan setapak Pura. Khusus bagi wisatawan yang berkunjung ke Pura Bali biasanya hanya diperbolehkan melintas dan melihat dari batas paling dalam jaba sisi yang dipisahkan oleh tembok dan candi pura sebelum kita memasuki jaba tengah (area tengah) Pura Uluwatu. Jaba tengah dan jaba dalem (area utama) hanya bisa diakses oleh para umat yang melakukan kegiatan persembahyangan.

Area Open Air Stage Pura Uluwatu

Karena lokasi Open Air Stage Pura Uluwatu berada di dalam kawasan wisata Pura,  sering membuat para wisatawan bingung untuk membuat tafsir apakah dibolehkan para wanita haid memasuki kawasan wisata Pura Uluwatu. Pada saat wisatawan membeli tiket masuk kawasan, petugas akan sangat senang memberikan anda penjelasan tentang larangan dan apa saja yang diperbolehkan selama mengunjungi tempat ini. Khusus bagi wanita haid, secara tegas ditulis dipapan pengumuman untuk tidak memasuki area pura namun hanya diperbolehkan menyusuri pinggiran luar area pura yang berupa jalan setapak disepanjang pinggir tebing disisi kanan dan kiri Pura.

Hal ini memungkinkan bagi wanita yang sedang haid untuk tetap datang mengunjungi Pura Uluwatu dan menonton Tarian Kecak Uluwatu, tentunya hanya disisi paloing luar area pura. Lokasi stage tempat pertunjukan Tari Kecak Uluwatu berada disisi luar paling selatan dari Pura Uluwatu. Stage yang dibangun disisi tebing selatan Pura ini memungkinkan untuk tetap dikunjungi bagi wanita yang sedang haid, dengan catatan bahwa mereka tidak memasuki area pura. Hal ini dimaksudkan untuk tetap menjaga kesucian area Pura yang merupakan tempat peribdatan bagi umat Hindu di Bali. Walaupun Pura seluas-luasnya telah dikembangkan sebagai tempat tujuan wisata, namun Peran serta pengunjung dan wisatawan untu menjaga kesucian kawasan ini sangat diharapkan. Begitu pula pihak agen perjalanan dan para pemandu wisata diharapkan untuk berpartisipasi dalam menginformasikan hal terkait kepada para wisatawannya dalam kunjungannya ke pura Uluwatu.

Cerita Tari Kecak Uluwatu

Cerita Tari Kecak Uluwatu

Cerita Tari Kecak Uluwatu

Uluwatu Kecak Dance atau oleh wisatawan domestik lebih dikenal dengan nama Tari Kecak Uluwatu adalah sebuah perkumpulan kelompok seni masyarakat Desa Pecatu, Denpasar-Bali. Desa paling ujung selatan dari pulau Bali ini merupakan sebuah desa yang sangat terkenal dengan objek wisata andalan yaitu Pura Uluwatu, desa ini juga terkenal dengan tempat dimana banyak hotel & fasilitas wisata berada. Lokasi yang sangat strategis dengan keindahan alam yang luar biasa membuat desa ini dipilih oleh para investor untuk menanamkan modal usahanya, contohlah Bulgari Hotels & Resorts, Bali, Alila Villas Uluwatu, The Istana, Tirtha Bali, The Edge, The Khayangan estate dan masih banyak lagi hotel maupun wedding venue yang dapat and temui di desa satu ini.

Uluwatu Kecak Dance dipentaskan disebuah panggung terbuka/outdoor yang berbentuk lingkaran tepat disebelah Pura Uluwatu. Pemandangan tebing yang begitu sangat mempesona ditambah dengan panorama sunset yang begitu indah membuat tempat ini menjadi sangat terkenal bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Pertunjukkan tari kecak uluwatu menjadi sangat spesial selain karena dipentaskan dikawasan yang begitu sakral bagi umat Hindu di Bali, juga karena posisi stage atau panggung tempat pertunjukan berlangsung juga sangat spektakuler. Stage yang dibangun dengan kapasitas ± 1400 orang ini siap memberikan anda sebuah pemandangan sore yang sangat menakjubkan, dimana diatas tebing yang menjorok ke tengah laut, kurang lebih 150 meter dari permukaan laut berdiri kokoh sebuah pura yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi yaitu Pura Uluwatu yang dibangun pada abad ke XI. Disamping kanan dan kiri pura,mata anda akan dimanjakan oleh pemandangan tebing yang begitu indah menambah kekaguman kita kepada Tuhan sang pencipta. Tingkah polah para kera yang hidup bebas & liar disekitar pura juga akan menjadi hal yang sangat menarik untuk anda amati, hanya perlu berhati-hati untuk tidak terlalu dekat dengan kera-kera tersebut karena terkadang dengan sifat binatangnya mereka suka mencuri sesuatu yang dianggap menarik sperti topi, kacamata, atapun anting.

Cerita Ramayana dipilih oleh Tari Kecak Uluwatu untuk menjadi lakon atau cerita pementasan, diceritakan seorang Raja yang begitu sangat bijaksana bernama Sang Rama Dewa sedang berusaha menyelamatan permaisurinya yang bernama Dewi Sita yang diculik oleh seorang raja raksasa yang sangat jahat bernama Rahwana. Perjalanan yang panjang dan sangat berbahaya kemudian ditempuh oleh Sang Rama Dewa dengan ditemani oleh adiknya yang bernama Laksamana.

Diceritakan pula ketika Raja Rahwana menculik Dewi Sita, didalam perjalanannya dilihat oleh Sang Jatayu, seekor burung Garuda yang merupakan sahabat dari Sang Rama Dewa. Ketika Jatayu mengetahui bahwa wanita yang sedang diculik oleh Rahwana adalah permaisuri dari sahabatny yaitu Sang Rama Dewa, maka burung Jatayu pun berusaha menyelamatkan sang permaisuri. Namun karena kesaktian Rahwana melebihi Jatayu, maka Jatayu dapat dikalahkan.

Pada bagian selanjutnya diceritakan kembali perjalanan Sang Rama Dewa yang hanya ditemani oleh adiknya Laksamana kemudian bertemu dengan Sang hanoman, seorang panglima perang pasukan kera yang merupakan keponakan dari seorang raja kera bernama Sugriwa. Karena pernah merasa berhutang budi kepada sang Rama Dewa, pasukan kera yang dipimpin oleh panglima perang Hanoman dan Raja Sugriwa bersedia membantu Sang Rama Dewa untuk merebut kembali permaisurinya. Karena kesaktiannya kera putih Hanoman dapat menyusup kedalam istana Raja Rahwana dan kemudian menemui Dewi Sita. Bagimana kemudian dengan kesaktiannya, Kera Putih Hanoman kemudian membakar istana Raja Rahwana yang didalam pementasan kecak diilustrasikan dengan fire dance. Dimana Hanoman kemudian ditangkap dan dibakar oleh para prajurit Rahwana yang semuanya adalah para raksasa. Perjuangan Hanoman dalam membantu Rama Dewa untuk mendapatkan permaisurinya kembali, menjadi sebuah cerita dan tarian yang sangat menarik untuk anda nikmati. Didalam pementasan juga akan muncul beberapa karakter lain yang menarik untuk anda amati lebih dalam karena dibawakan oleh pemuda-pemudi masyarakat Pecatu yang begitu lemah gemulai dalam membawakan karakternya masing-masing.

Anda akan melihat kurang lebih 70 orang laki-laki yang membentuk lingkaran ditengah-tengah stage dimana para penari akan membawakan cerita Ramayana tersebut. Ornamen kain kotak-kotak hitam-putih yang menjadi ciri khas penari kecak membuat kesan sakral pada cerita yang dibawakan dan dapat membius ribuan penonton yang selalu memadati tempat ini. Pemakian hiasan dan ornament lain dalam pakian penari pada setiap karakternya juga akan menjadi hal yang sangat menarik untuk diamati atau sekedar di photo oleh para wisatawan.

Bukan itu saja, ketika pementasan baru berjalan kurang lebih 20 menit adalah saat dimana matahari akan kembali keperaduannya dibelakang Samudra Hindia yang membentang luas di depan stage kecak uluwatu, pemandangan lembayung senja kemerahan dan sunset yang begitu sangat romantic dapat anda nikmati tanpa harus bergeser atau beranjak dari tempat anda menonton.
Cerita kemudian ditutup dengan kalahnya Raja Rahwana yang dapat dikalahkan dengan panah sakti yang dimiliki oleh Sang Rama Dewa, dan pada akhirnya Raja Rama Dewa dapat kembali bersatu bersama permaisurinya Dewi Sita.